Katanya kalian adalah tanganNya untuk kami
Nyatanya kalian hanya panjang tangan
Malang melintang di hutan kami
Menebar benci dan dengki
Katanya ajaran yang di amanatkan kepada kalian adalah cinta kasih
Nyatanya sekedar cinta pada diri yang tak terkendali
Katanya kalian pencinta alam
Nyatanya sekedar suka bercinta dengan alam
Dari kami kalian berasal
Tapi kami asing dengan kalian
Kalian toreh kulit kayu dan batu kami
"hanya tuk sekedar nama-nama kecil
Jinjinglah terompahmu
Injaklah kaki di batu-batu kecil kami yang memberi refleksi
Berwudhu'lah di air kami
Basuh mukamu sepuas syukurmu
Syukur jauh dari sekedar memuji-Nya
Syukur jauh dari sekedar menikmati
Makanlah dengan tangan telanjang di tepi kolam kami
Bersama teratai,capung,burung,katak dan burung-burung kami
Bersatulah dengan kami
Binalah tempat berpijakmu ini
Niscaya akan kami mintakan kepadaNya
Pemilik jagad ini
"tuk meneguhkan kedudukanmu dimuka bumi
Sampai suatu saat,
Kami kehilangan dari pandanganmu
Karena kami hanya segelintir ayat-Nya
Di jagad-Nya yang luas ini
S-B
Jumat, 31 Oktober 2008
bila
Bila angin
kehilangan desirnya
daun-daun kering
takkan mau
meluruhkan tubuhnya
Bila langit
kehilangan kebiruannya
burung-burung
takkan mau
mengepakkan sayapnya
Bila sungai
kehilangan kejernihannya
ikan-ikan
takkan mau
mengibaskan ekornya
Bila bulan
kehilangan sinarnya
malam-malam
akan gelap tanpa cahaya
Bila hutan
kehilangan pohon-pohon
hewan-hewan
kehilangan tempat tinggalnya
Bila bukit
kehilangan kehijauannya
sungai-sungai
akan kering selamanya
Bila petani
kehilangan sawah ladangnya
kanak-kanak
akan menitikkan air mata
Bila manusia
kehilang kemanusiaannya
alam semesta
akan tertimpa bencana
dan bertanya angin kering
"Perlukah memanusiakan manusia?".
kehilangan desirnya
daun-daun kering
takkan mau
meluruhkan tubuhnya
Bila langit
kehilangan kebiruannya
burung-burung
takkan mau
mengepakkan sayapnya
Bila sungai
kehilangan kejernihannya
ikan-ikan
takkan mau
mengibaskan ekornya
Bila bulan
kehilangan sinarnya
malam-malam
akan gelap tanpa cahaya
Bila hutan
kehilangan pohon-pohon
hewan-hewan
kehilangan tempat tinggalnya
Bila bukit
kehilangan kehijauannya
sungai-sungai
akan kering selamanya
Bila petani
kehilangan sawah ladangnya
kanak-kanak
akan menitikkan air mata
Bila manusia
kehilang kemanusiaannya
alam semesta
akan tertimpa bencana
dan bertanya angin kering
"Perlukah memanusiakan manusia?".
Selasa, 28 Oktober 2008
Alam yang Megah
Angin yang berhembus pelan
Menggoyang rerumputan di sekitarnya
Kicauan burung nan merdu
Disertai pepohonan nan bergoyang
Menambah semaraknya alamku
Alam yang megah
Kupandang lagi jauh alamku
Dan kembali teringat olehku perbuatan yang kejam
Perbuatan kejamku, kamu dan yang lainnya
Yang telah merusak alam sendiri
Dan menjadikannya sesuatu yang tidak berguna lagi
Kini, alamku memang tak seindah dulu
Tapi, aku dan semuanya berjanji
akan terus menjaga mu dari intaian
makhluk-makhluk pengganggu
Hei!!
Jangan termenung saudaraku
Bangkitlah,
Ayo, kita jaga alam kita
Agar kembali seindah dan semegah dulu
from R-k
Menggoyang rerumputan di sekitarnya
Kicauan burung nan merdu
Disertai pepohonan nan bergoyang
Menambah semaraknya alamku
Alam yang megah
Kupandang lagi jauh alamku
Dan kembali teringat olehku perbuatan yang kejam
Perbuatan kejamku, kamu dan yang lainnya
Yang telah merusak alam sendiri
Dan menjadikannya sesuatu yang tidak berguna lagi
Kini, alamku memang tak seindah dulu
Tapi, aku dan semuanya berjanji
akan terus menjaga mu dari intaian
makhluk-makhluk pengganggu
Hei!!
Jangan termenung saudaraku
Bangkitlah,
Ayo, kita jaga alam kita
Agar kembali seindah dan semegah dulu
from R-k
sendiri
Sendiri
itulah yang sering terucap
saat tidak memiliki siapapun
merasa diri sangat bodoh
sangat bersalah
ketika semua telah berakhir
dan berada dalam sendirian
kegelapan menyelimuti
wajah menampakkan ketegaran
tetapi apakah benar?
apakah yang dilakukan ini benar?
apakah tidak ada kata tangis
dan penyesalan
tangis yang terus-menerus
menyesali diri ini
benci terhadap diri ini
muak terhadap diri ini
tapi ada satu hal
keinginan kecil
jauh di lubuk hati
untuk mencari
secercah cahaya
sebuah tangan
untuk berharap
dapat membawa kembali
kepada kebersamaan
dalam sinar mentari pagi
dan tertawa kembali
itulah yang sering terucap
saat tidak memiliki siapapun
merasa diri sangat bodoh
sangat bersalah
ketika semua telah berakhir
dan berada dalam sendirian
kegelapan menyelimuti
wajah menampakkan ketegaran
tetapi apakah benar?
apakah yang dilakukan ini benar?
apakah tidak ada kata tangis
dan penyesalan
tangis yang terus-menerus
menyesali diri ini
benci terhadap diri ini
muak terhadap diri ini
tapi ada satu hal
keinginan kecil
jauh di lubuk hati
untuk mencari
secercah cahaya
sebuah tangan
untuk berharap
dapat membawa kembali
kepada kebersamaan
dalam sinar mentari pagi
dan tertawa kembali
Hanya untuk langit
Malam ini langit tak berbintang
Hujan turun dengan begitu deras
Saai itu kutahu....
Bahwa langit mengerti atas kesedihanku
Langit mengerti atas semua penderitaanku
Untuk itulah langit menurunkan hujan untukku
Langit ingin melihatku bahagia
langit ingin melihatku tersenyum...
Kuberlarian dengan diguyur air hujan yang dingin
Supaya hujan menghapus semua air mataku...
Semua penderitaan dan kesedihanku...
Semuanya akan hanyut bersama air yang mengalir..
Biarlah...
Biarlah semuanya berlalu
Akan kubuka lembaran yang baru...
Dan gadis ini akan memperlihatkan senyuman terindahnya...
Hanya untuk langit
from WSU
Hujan turun dengan begitu deras
Saai itu kutahu....
Bahwa langit mengerti atas kesedihanku
Langit mengerti atas semua penderitaanku
Untuk itulah langit menurunkan hujan untukku
Langit ingin melihatku bahagia
langit ingin melihatku tersenyum...
Kuberlarian dengan diguyur air hujan yang dingin
Supaya hujan menghapus semua air mataku...
Semua penderitaan dan kesedihanku...
Semuanya akan hanyut bersama air yang mengalir..
Biarlah...
Biarlah semuanya berlalu
Akan kubuka lembaran yang baru...
Dan gadis ini akan memperlihatkan senyuman terindahnya...
Hanya untuk langit
from WSU
Rabu, 22 Oktober 2008
Edelweis dan keabadiannya
siapa yang tidak kenal dengan bunga yang satu ini. saya yakin semua yang mengaku mapala atau komunitas pecinta alam pasti akan dengan segera mengakui bahwa ia mengenalnya. namun apa jadinya jika keabadian bunga ini diusik oleh tangan-tangan jahil, yang kemudian memetiknya untuk dibawa pulang. lebih parah lagi kalo dipetik hanya untuk pembenaran atau bukti bahwa ia telah mencapai puncak gunung tertentu.
bunga Edelweis ada beberapa macam warnanya, tergantung dari habitat dimana ia tumbuh. di gunung Arjuno dan Welirang (jawa-timur), bunga ini akan berwarna sedikit kkuningan. di beberapa gunung lain, warnanya pun akan lain. biru, sedikit kemerahan. yang paling banyak ditemui adalah warna putih. ada juga yang berwarna-warni (karena di cat oleh penjualnya, hehehe….)
sekiranya bunga ini dipetik, dan kemudian di tunjukkan pada orang lain yang ada di bawah (yang gak ikutan naik gunung, mis), saya bisa menyebutnya sebagai suatu perusakan ekosistem dan habitat. meskipun bunga ini disebut juga dengan bunga abadi, namun alangkah lebih baiknya jika kita tidak memetiknya dan menjadikannya sebagai hiasan di rumah. lebih parah lagi jika bunga ini nantinya akan diberikan pada kekasih pujaan hati. Wuih…….ga Gentle banget tuh orang. kalo jadi cewek yang dikasih bunga, malah ku suruh balkin lagi aja di tempatnya semula.
sudah banyak peraturan yang melarang untuk membawa pulang bunga edelweiss ini. di Gunung Semeru, siap-siap jika ketahuan memetik bunga ini, berendam di Ranu Kumbolo atau Ranu Regulo. Wuih…dingin banget. makanya, jangan coba2 ngambil ya. kalo diambil� terus, maka keabadiannya akan hilang lho….. kesadaran akan kestabilan habitat dan ekosistem lingkungan akan membuat kita semakin bijak dalam memahami alam. So…..don’t take this flower home. I mean it….� :-)
bunga Edelweis ada beberapa macam warnanya, tergantung dari habitat dimana ia tumbuh. di gunung Arjuno dan Welirang (jawa-timur), bunga ini akan berwarna sedikit kkuningan. di beberapa gunung lain, warnanya pun akan lain. biru, sedikit kemerahan. yang paling banyak ditemui adalah warna putih. ada juga yang berwarna-warni (karena di cat oleh penjualnya, hehehe….)
sekiranya bunga ini dipetik, dan kemudian di tunjukkan pada orang lain yang ada di bawah (yang gak ikutan naik gunung, mis), saya bisa menyebutnya sebagai suatu perusakan ekosistem dan habitat. meskipun bunga ini disebut juga dengan bunga abadi, namun alangkah lebih baiknya jika kita tidak memetiknya dan menjadikannya sebagai hiasan di rumah. lebih parah lagi jika bunga ini nantinya akan diberikan pada kekasih pujaan hati. Wuih…….ga Gentle banget tuh orang. kalo jadi cewek yang dikasih bunga, malah ku suruh balkin lagi aja di tempatnya semula.
sudah banyak peraturan yang melarang untuk membawa pulang bunga edelweiss ini. di Gunung Semeru, siap-siap jika ketahuan memetik bunga ini, berendam di Ranu Kumbolo atau Ranu Regulo. Wuih…dingin banget. makanya, jangan coba2 ngambil ya. kalo diambil� terus, maka keabadiannya akan hilang lho….. kesadaran akan kestabilan habitat dan ekosistem lingkungan akan membuat kita semakin bijak dalam memahami alam. So…..don’t take this flower home. I mean it….� :-)
Teknik Dasar Alam Bebas
"Setiap tahun banyak sudah korban berjatuhan disetiap pendakian....takdirkah? atau karena
ulah manusianya sendiri?"
Berita duka datang silih berganti. Banyak rekan-rekan pendaki mengalami musibah maut dalam kegiatan alam bebas ini. Orang mungkin bisa saja mengatakan itu adalah 'takdir'. Ya...itu memang sudah kehendak Yang Maha Kuasa, tapi manusia juga ikut menentukan takdirnya sendiri. Adakah yang salah?
Bila kita perhatikan gejala para pendaki lokal (memang tidak semuanya), mereka melakukan pendakian lebih banyak mengandalkan tenaga dan keberanian atau bisa dibilang nekat. Padahal dalam melakukan pendakian banyak hal yang perlu diperhatikan.
Itulah mengapa ada yang dinamakan Manajemen Perjalanan/Pendakian. Segala sesuatunya harus diatur dan dianalisa. Walupun kita hanya melakukan pendakian biasa bukan sebuah expedisi. Namun Manajemen Perjalanan harus tetap diterapkan. Bahkan hal-hal kecilpun harus dipikirkan.
Bila saja para pendaki memahami dasar-dasar manajemen perjalanan, maka akan semakin meminimalkal musibah dan korban kegiatan alam bebas ini. Kebanyakan korban yang jatuh akibat bahaya subjektif (dari diri sendiri). Ini disebabkan kurangnya pemahaman tentang Manajemen Perjalanan dan teknik hidup di alam bebas.
Dan satu hal yang juga penting adalah menjaga ahlak kita, bagaimana kita bersikap terhadap alam, karena kadang faktor 'X' pun bisa menjadi sebabnya.
ulah manusianya sendiri?"
Berita duka datang silih berganti. Banyak rekan-rekan pendaki mengalami musibah maut dalam kegiatan alam bebas ini. Orang mungkin bisa saja mengatakan itu adalah 'takdir'. Ya...itu memang sudah kehendak Yang Maha Kuasa, tapi manusia juga ikut menentukan takdirnya sendiri. Adakah yang salah?
Bila kita perhatikan gejala para pendaki lokal (memang tidak semuanya), mereka melakukan pendakian lebih banyak mengandalkan tenaga dan keberanian atau bisa dibilang nekat. Padahal dalam melakukan pendakian banyak hal yang perlu diperhatikan.
Itulah mengapa ada yang dinamakan Manajemen Perjalanan/Pendakian. Segala sesuatunya harus diatur dan dianalisa. Walupun kita hanya melakukan pendakian biasa bukan sebuah expedisi. Namun Manajemen Perjalanan harus tetap diterapkan. Bahkan hal-hal kecilpun harus dipikirkan.
Bila saja para pendaki memahami dasar-dasar manajemen perjalanan, maka akan semakin meminimalkal musibah dan korban kegiatan alam bebas ini. Kebanyakan korban yang jatuh akibat bahaya subjektif (dari diri sendiri). Ini disebabkan kurangnya pemahaman tentang Manajemen Perjalanan dan teknik hidup di alam bebas.
Dan satu hal yang juga penting adalah menjaga ahlak kita, bagaimana kita bersikap terhadap alam, karena kadang faktor 'X' pun bisa menjadi sebabnya.
Langganan:
Postingan (Atom)
mt.pangrango