Jumat, 19 Oktober 2007

sometime.....

Jika matahari yang kulihat adalah terang
Maka sinarnya belum menerangi seluruh isi ruangku
Jika bulan yang kulihat adalah cahaya
Maka keteduhannya belum memayungi seluruh resahku
Jika seluruh laut adalah samudera raksasa
Maka luasnya belum menampung kegelisahanku
Jika resahku belum berhenti

Keteduhan-Mu adalah pintu
Senyum-Mu adalah jendela
dan aku ingin memasukinya......
Memasuki istana-Mu

Perasaan ini.....
haruskah Kebingungan ini terus mendaki tebing-tebing waktu
yang tak berujung?

Haruskah perasaan ini menyusuri tepian-tepian luka?
Wahai laut, bumi, langit, udara dan cahaya

Apakah ini adalah takdir, janji alam, atau

hanya catatan waktu......?
Salamku untukmu, gunung-gunung E-mail



…Masih seperti hidup terkesan didalam benakku, hutan rimba nun disana yang terhias oleh hijau yang abadi beribu-ribu bunga, yang harumnya tidak pernah melemah; dengan telinga batinku aku mendengar angin laut mendesah diantara pohon-pohon pisang dan puncak-puncak pohon nyiur, deburnya air terjun, didaerah pedalaman yang jatuh dari ketinggian tebing-tebing gunung; seolah-olah saya menghirup hawa pagi yang sejuk, seakan-akan saya kembali berada dimuka gubuk orang jawa yang ramah, sedang sepi yang senyap masih meliputi hutan rimba yang mengelilingi diriku,-tinggi diatasku, diawang-awang kelompok-kelompok kalong dengan mengibas-ngibaskan sayapnya bergegas kembali kedaerah tempat bermukimnya disiang hari kemudian mulai ada kehidupan gerakan disengkuap tajuk dari, burung-burung merak meneriakkkan cuhungnya, kera-kera mulai lagi permainana yang lincah, sedang gema suaranya membangunkan gunung-gunung dengan nyanyian paginya, beribu-ribu burung mulai dengan kicaunnya, dan sebelum matahari mewarnai langit timur, puncak yang megah dari gunung disana telah terpulas dengan emas dan merah cerah, dari ketinggian dia memandang diriku seperti kenalan lama,- kerinduanku menanjak dan dengan haus kuharapkan datangnya hari, waktu dimana aku dapat mengatakan.. :

"salamku untukmu, gunung-gunung, "


CINTA ADALAH FITRAH YANG SUCI

Cinta seorang laki-laki kepada wanita dan cinta wanita kepada laki-laki adalah perasaan yang manusiawi yang bersumber dari fitrah yang diciptakan Allah SWT di dalam jiwa manusia , yaitu kecenderungan kepada lawan jenisnya ketika telah mencapai kematangan pikiran dan fisiknya.

"Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri , supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya , dan dijadikan-Nya diantara kamu rasa kasih sayang .Sesungguhnya pada yang demikian itu benar- benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (Ar Rum ayat 21)

Cinta pada dasarnya adalah bukanlah sesuatu yang kotor , karena kekotoran dan kesucian tergantung dari bingkainya. Ada bingkai yang suci dan halal dan ada bingkai yang kotor dan haram

Cinta mengandung segala makna kasih sayang , keharmonisan , penghargaan dan kerinduan , disamping mengandung persiapan untuk menempuh kehiduapan dikala suka dan duka , lapang dan sempit.

Cinta bukanlah hanya sebuah ketertarikan secara fisik saja. Ketertarikan secara fisik hanyalah permulaan cinta bukan puncaknya.Dan sudah fitrah manusia untuk menyukai keindahan.Tapi disamping keindahan bentuk dan rupa harus disertai keindahan kepribadian dengan akhlak yang baik.

Islam adalah agama fitrah karena itulah islam tidaklah membelenggu perasaan manusia.Islam tidaklah mengingkari perasaan cinta yang tumbuh pada diri seorang manusia .Akan tetapi islam mengajarkan pada manusia untuk menjaga perasaan cinta itu dijaga , dirawat dan dilindungi dari segala kehinaan dan apa saja yang mengotorinya.

Kamis, 18 Oktober 2007

“ HAKEKAT MENDAKI GUNUNG ADALAH

BERANGKAT DENGAN SELAMAT, PULANG JUGA SELAMAT.

CARANYA DENGAN MENYESUAIKAN DIRI SEBAIK MUNGKIN DENGAN ALAM, TIDAK DENGAN MENGADU KEKUATAN MELAWAN ALAM”

Perjalanan di alam bebas pada saat ini sudah umum dilakukan dengan berbagai alasan dan latar belakang, misalnya untuk olahraga, hobi, penelitian, pelatihan, pengajaran, atau sekedar meluangkan waktu untuk mengatasi kepenatan aktivitas sehari-hari. Perjalanan di alam bebas seperti gunung memiliki sifat yang berbeda dengan olahraga lainnya, yaitu:

  • Olahraga ini merupakan olahraga “sunyi”, tidak ada sambutan tepuk sorak, jika kita sebagai pelaksana (atlet) selesai melaksanakannya. Tidak ada sorotan mata penonton dan riuh tepukan tangan di panggung.

  • Kawan yang berjalan di sebelahnya, di tempat sunyi tersebut, bukanlah lawan yang harus dikalahkan, tetapi teman saling mempercayai nasib dan keselamatan jiwa, disamping kepercayaannya kepada Tuhan.

  • Keteledoran atau kecerobohan dalam olahraga ini, bayarannya tinggi, terkadang harus dibayar dengan jiwa.

Banyak sifat-sifat yang baik yang bisa dipupuk pada anak-anak yang dilatih dalam olahraga ini. Paling tidak sifat percaya diri, karena dia selalu ada di tempat dimana bantuan dari orang lain tidak bisa dia harapkan akan datang dengan cepat, sehingga kemandirian pun dapat ditanamkan melalui kegiatan alam bebas. Dia akan menyadari di tempat yang jauh sunyi itu, bahwa dia hanya bisa menggantungkan nasib dirinya kepada kekuatannya sendiri dan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Banyaknya kecelakaan yang terjadi pada beberapa gunung, yang menyebabkan jatuh beberapa korban, dikarenakan kurangnya pengetahuan terhadap tempat yang didatangi yang jauh dari pemukiman manusia. Dengan demikian kecelakaan yang mungkin terjadi dapat dihindarkan.

kembaliLAGi??

Aku selalu suka kembali ke alam। Menikmati suara burung, desau angin yang menggesek pucuk-pucuk pepohonan, menghirup bau damar dan pinus atau menceburkan kaki ke dinginnya air sungai yang jernih। sungguh saat yang sangat istimewa। Tak ada suara knalpot, tak ada suara klakson, tak ada bahan pengawet dan plastik. Yang ada hanya apa yang diciptakan Tuhan untuk kita. tak ada campur tangan manusia. semua murni. hanya kita dan Tuhan, melalui ciptaanya.

Mendaki perbukitan, suara kicau burung mengiringi langkah berat kaki-kaki kami yang kurus dan kendur karena jarang digunakan. Suara nafas kami menderu, seolah berlomba-lomba keluar dari kerongkongan dan paru-paruku.

Satu hal yang selalu aku senangi saat mendaki gunung adalah emosi. Aku selalu mendapatkan apa yang disebut sebagai persahabatan, ketulusan, ego, saling membutuhkan dan tolong menolong. Ibaratnya, we can't live without someone else. Kita mesti bersama. Untuk menghilangkan ketakutan, udara dingin yang kadang membekap tubuh, melawan kegelapan dan membangun tempat perlindungan. Sebuah miniatur hidup sesungguhnya, yang tak dapat lagi didapati di kota.
Tak ada rasa canggung saat kita di hutan. Semua orang menjadi dirinya sendiri. Tak ada rasa jaim dan menutupi diri dan sifat asli. Yang ada hanyalah kepolosan seorang pribadi. Tak ada kepura-puraan. Kecuali kau ingin mati dalam kesendirian.

Mendaki gunung dan menyusuri lebatnya hutan lindung juga memberikan gambaran hidup yang sesungguhnya. Kita mesti mendaki selangkah demi selangkah, hanya demi sebuah kesuksesan. Meski kesuksesan itu kadang tak bisa dinikmati atau bahkan dimengerti oleh orang lain. Kita mesti membawa bekal agar bisa menikmati kesuksesan, baik itu bekal fisik berupa makanan maupun bekal non fisik berupa keyakinan, semangat pantang menyerah dan kesetiaan. Kita juga mesti memandang ke depan agar tahu tujuan kita. Sesekali memandang jauh ke depan agar tak hilang arah. Namun selalu menunduk sebagai pertanda ketekunan sekaligus agar tak menjadi sombong dan tersandung akar yang mungkin menghalangi.
Saat turun, kita mesti berjuang untuk bertahan. Gegabah dan tinggi hati akan membuat kita tergelincir. Turun tanpa aturan dan jatuh di kedalaman jurang. Terpuruk dengan luka mendera seluruh tubuh.
Banyak sekali pelajaran hidup yang bisa kita dapat. Inilah yang kadang tak bisa dikatakan para pecinta alam saat melakoni hobynya. Aku belajar tentang hidup dan tujuan hidup yang sebenarnya saat melangkahkan kaki menyusuri jalan setapak. Aku mensyukuri nikmat Tuhan saat menikmati sinar mentari pertama di puncak gunung. Aku belajar untuk tidak menjadi sombong dan tinggi hati saat menuruni lereng gunung, dan aku belajar untuk tak jadi egois saaat berbagi makanan di tenda yang sempit.
That's why I like to take a trip to climb the hill. Because I love to enjoy the creation of God.

hidup itu,... naik gunung...

kenapa? hehe karena saya ingin sekali membahas ini. pengalaman ndaki-ndaki tempat tinggi itu memang belum banyak, tapi, dengan yang sedikit ini, saya ingin sekali berbagi.

hidup itu, naik gunung,.. woops, bukan berarti hidup dihabiskan untuk naik dari satu gunung ke gunung lain, (boleh juga sih, kalo mau..)

berikut, satu per satu hal yang mbikin naik gunung itu selayaknya miniatur dari hidup kita yang akan berakhir di suatu waktu yang entah..

1. Ketika mendaki, di sana, cuma Tuhan yang bisa menolong kita.

tanpa banyak berdoa, mendaki gunung adalah hal yang amat mengkhawatirkan. bayangkan sejuta resiko yang bisa didapat dalam perjalanan naik ato turun. capek, suhu dingin, cidera, tersesat, bertemu 'sesuatu', hewan liar, dan lain-lain-lainnya. walaupun naik berombongan, ngga bisa sepenuhnya mengandalkan kawan2 untuk membantu kalo2 terjadi sesuatu sama saya. justru malah mungkin, kaki yang keseleo, ato tersesat mbikin susah kawan lainnya. maka saya tak pernah lupa ketika menapaki langkah pertama di jalur, bahwa hidup dan mati saya, sampai atau tidaknya saya kembali turun, benar-benar ada di tangan Tuhan. sepenuhnya. tanpa banyak berdoa, saya tidak ingin membayangkan apa-apa yang mungkin terjadi. seperti hidup, sesungguhnya, sebenar-benarnya, hidup dan mati kita, ada ditangannya, sayang sering kita lupa, kalo kita cuma manusia..

2. Jangan tengok belakang!!

yup!menunggu teman yang tertinggal di belakang? duduk dan tunggu. jangan berdiri dan menoleh ke belakang. perjalanan akan terasa jauh, kapan nyampe'nya nengok-nengok mlulu ke belakang? secara ilmiah, kalo lagi jalan trus nengok ke belakang kan bisa kesandung terus jatoh.. ya ga?

pun dalam hidup, ketika terlalu sering menengok ke belakang, membuang terlalu banyak energi untuk melihat segala yang sudah berlalu.. jalani saja hidup.. dont look back. stop it!

sekedar info, di jalur semeru ada sebuah tanjakan, dinamai tanjakan cinta. entah mengapa. mitosnya, jika melalui tanjakan itu sambil memikirkan pacar, gebetan, selingkuhan, ato apalah, tanpa menengok ke belakang, harapan cintanya bisa terkabul..

ketika kemarin saya melewatinya... saya tak henti memikirkan... rupiah-rupiah-rupiah (menyaingi cindy cenora 'aku cinta rupiah')

3. Smangat!!! tapi saya lelah...

Ketinggian 3676 mdpl, dengan kemiringan track nyaris 80 derajat, beban air di ransel, plus udara dingin yang mbikin susah nafas, angin plus debu, semakin menuju puncak, dengan jalur pasir yang kalo ga hati2 bisa ambrol kalo dipijak, fiuuuuhh.... saya lelah, saya ingin menyerah, saya berhenti saja dan tunggu disini..

hmmm, tapi ato semangat. segalanya akan terbayar ketika sampai di puncak sana. melihat samudera di atas langit, dan di atas langit masih ada langit, ayo semangat-semangat!!begitupun hidup kan? harus semangat. bukan hal aneh, seiring bertambahnya usia, tantangan, beban dan pencapaian akan jauh menjelma lebih besar. seringkali saya dihinggapi putus asa, ingin berhenti, lari, escaping, tapi percuma. tantangan harus dihadapi dengan penuh semangat.

kalau sudah sampai puncak, Subhanallah, takkan ada yang mengalahkan rasa takjub pada diri sendiri ketika menyadari... saya bisa melangkahkan kaki sampai di sini..

4. look, whos behind the masks...

apa saya loyal ato pelit? apa saya rajin ato males? apa saya optimis ato pesimis? saya peduli ato egois? saya pelupa ato teliti?

banyak sifat yang sebelumnya ngga saya sangka ada pada saya tiba-tiba muncul dalam keadaan survive. baik survive dari dingin, lapar ato lelah. ego tiba2 menduduki posisi lebih tinggi, ya ngga kaget, kalo yang udah paham, pasti tau, di lapangan, orang bisa keliatan aslinya. makanya ati2 menjaga sikap.. lucu juga tau aslinya orang2 gimana di balik kesehariannya yang pastinya beda banget. hehe, tapi ini juga bisa nambah akrab.

sayang. cuma ini yang bisa saya uraikan, dari buanyak hal yang telah dan pernah saya dapat dari pengalaman mendaki. langit, awan, pohonan, bintang-bintang dan ketinggian adalah hal-hal yang sulit saya dapat ketika melewati gang senpit, jalan layang dan gedung-gedung menjulang..

mungkin kamu-kamu bisa coba mendaki.. rasakan.. ato punya pengalaman lebih seru? berbagilah dengan saya..

MENAKLUKKAN, MENCIPTAKAN, ATAU MENCARI (-CARI) TANTANGAN?

Stacy Allison adalah wanita Amerika pertama yang mencapai puncak Everest, pegunungan Himalaya. Ini terjadi pada tahun 1988. Karena hal ini, namanya tercatat dalam sejarah, paling tidak dalam sejarah Amerika, khususnya hikayat para pendaki gunung. Namun bagi Stacy pribadi, kejadian ini adalah kisah balik yang menentukan siapa dirinya sebenarnya.

Sejak berusia 7 tahun, Stacy sudah belajar mendaki gunung (orang dewasa menyebutnya - bukit) yang ada di sekitar tempat tinggalnya. Seperti semua anak pada umumnya, ia sangat menginginkan hidup normal, penuh damai dan bahagia di tengah-tengah orang yang dikasihi dan mengasihinya. Tapi ternyata itu hanya mimpi. Ayahnya meninggalkan ibunya ketika Stacy berusia 14 tahun, karena tertarik pada wanita lain.

Rasanya hal ini cukup mempengaruhi persepsi Stacy tentang pria. Berkali-kali ia tertarik pada pria secara jujur dan polos, karena pria itu memiliki kelebihan tertentu, terutama bila itu berkaitan dengan minatnya mendaki gunung. Namun tanpa disadari hidup pernikahannya terjalin dengan seorang pria yang mengaku mencintainya setengah mati namun tega memukulinya secara fisik, mengejek ketidakberdayaannya, dan sekaligus menghancurkan harga dirinya, walaupun pria itu adalah seorang pendaki gunung yang punya pengalaman segudang!

Buat Stacy, menaklukkan Everest adalah perjalanan yang penuh persiapan, bukan hanya secara fisik dan finansial, tetapi mental. Ia tidak peduli apakah kalau berhasil ia akan menjadi wanita Amerika pertama atau tidak. Ia tidak berpikir untuk mengukir namanya di antara nama-nama penting lainnya dalam sejarah. Namun yang ingin dibuktikan ialah, bahwa pendakian itu dapat dilakukan tanpa campur tangan Mark, eks suaminya, yang selama ini selalu membanggakan diri menjadi pembimbing Stacy.

Keberhasilan menaklukkan Everest membuat Stacy melihat hidup ini secara lebih realistis. Buat Stacy, mendaki gunung adalah kesempatan untuk menaklukkan tantangan, yang hadir sekaligus dengan tanggung jawab, tekanan dan harapan. Dalam kata-kata Stacy yang tertuang dalam bukunya Beyond the Limit, ... to look beyond the ordinary and to transcend myself. Di balik apa yang kita kerjakan, lihat dan pandang ke atas, dan kita akan menemukan sesuatu yang baru. Kita akan mengenali siapa diri kita dan kekuatan kita yang sesungguhnya setelah kita menaklukkan puncak-puncak gunung yang semula nampak menakutkan.

Sama seperti Stacy, kita pun dapat mendaki puncak-puncak gunung untuk menemukan siapa diri kita yang sesungguhnya. Mungkin gunung itu tidak hadir secara fisik, (walaupun cukup banyak gunung di pulau Jawa dan Sumatra), tetapi masih banyak gunung-gunung lain yang dapat membantu kita menemukan siapa diri kita dan seberapa jauh kita dapat mengaktualkan potensi kita yang sesungguhnya. Banyak studi yang membuktikan, bahwa kematangan pribadi seseorang justru dibuktikan setelah orang itu berhasil membuktikan kemandiriannya saat mengalahkan berbagai tantangan. Sebaliknya, orang yang dependen (tergantung) adalah orang yang lari bila menghadapi masalah. Dengan kata lain, keberhasilan menjawab tantangan akan menentukan kualitas pribadi kita.

Seperti imbauan Stacy, Lihatlah ke atas, ke luar dari rutinitas, pandanglah, dan ternyata ada gunung yang harus didaki, masih banyak hal yang dapat kita lakukan untuk menjadi lebih baik. Merasa tidak puas dan ingin berbuat lebih baik lagi adalah kata kuncinya. Ternyata tantangan itu ada di mana-mana, tanpa perlu kita mencari-cari, apalagi menciptakan! Barulah ketika kita berhasil mengerjakan itu semua, kita akan menemukan siapa diri kita yang sebenarnya. Dan yang menyejukkan hati, tidak ada kata terlambat untuk memulai ini semua. Tinggal mau atau tidak!

mt.pangrango

mt.pangrango